Usaha Warnet

22 12 2009

Berpikir membuka usaha warnet bisa jadi merasa ribet, bisa jadi tidak, atau malah gampang sekali. Ribet karena mungkin belum memiliki pengetahuan yang dirasa cukup untuk memasang jaringan dan instalasi komputer sendiri. Untuk masalah ini, sekarang cukup banyak penyedia layanan jasa instalasi jaringan atau setup baru sampai menjadi sebuah warnet yang sudah bisa operasional. Tapi kemudian, bagaimana nanti kalau timbul masalah di tengah jalan ? Panggil lagi teknisi, bayar mahal lagi. Kalau sekali dua kali masih tidak mengapa, kalau terus-terusan bagaimana ?

Bagi yang merasa cukup pengetahuan, mampu membuat jaringan sederhana, paling tidak sedikitnya tahu mengenai komputer dan seluk-beluknya, mungkin merasa tidak ribet, hanya berpikir masalah untung ruginya bisnis warnet. Untung gak sih ? Dengan kalkulasi sederhana, 1 komputer terisi 4 jam setiap harinya, 1 jam 3 ribu rupiah, 1 komputer menghasilkan 4 x 3.000 = 12.000 sehari. 10 komputer 120.000 sehari, sebulan 30x120rb = 3,6jt. Anggaplah biaya operasional per bulan : koneksi internet + listrik + telepon + sewa tempat = 1,7jt, kalau tidak dijaga sendiri : plus gaji pegawai 2 orang = 1jt, total = 2,7 jt. Keuntungan per bulan 3,6 – 2,7jt = 900rb. Kapan bisa balik modal ? Modal 11 komputer saja @ 2,5jt = 27,5 jt, belum jaringan dan furnitur.

Tapi sebagian orang yang termasuk risk taker, kalkulasi demikian mungkin tidak menghalangi, semua tergantung rezeki dari masing-masing orang, kalau kita pandai mengelola, tentu tetap bisa untung dan cepat balik modal, bahkan berkembang berkali-kali lipat.

Terlepas dari pemikiran orang bagaimana, memang kembali pada diri sendiri lagi, apakah kita mau mengambil tindakan atau tidak. Seandainya mau, dan kita tertarik untuk usaha warnet, kita dihadapkan pada pilihan-pilihan: apakah mau game center, atau khusus warnet, atau bisa dua-duanya ?

Masing-masing mempunyai keuntungan dan kerugiannya. Juga karakteristik yang berbeda antara game center dan warnet. Game center : okupansi lebih tinggi, arahnya lebih murni ke bisnis hiburan, tempat jadi ramai dan cukup berisik, pelanggan utama pelajar SMP, modal relatif lebih besar, pakai Windows, pergantian software game dan pemeliharaan lebih sering. Warnet : okupansi relatif lebih rendah, bisa jadi sebagai hiburan atau pendidikan, pelanggan utama SMA, maen facebook, modal bisa ditekan jadi lebih murah, bisa pakai linux, software lebih stabil dan butuh pemeliharaan lebih sedikit.

Jika pertimbangan bisnis kita murni hanya didasarkan pada perhitungan keuntungan dan pengembalian modal lebih cepat, sebenarnya, tidak seorang pun tahu persis, mana yang lebih baik, karena pendapatan lebih tinggi dari game center diimbangi dengan pengeluaran modal lebih besar di awal, belum ada cara untuk mengakali penekanan modal yang utamanya besar di komponen komputer masing-masing client-nya, spesifikasinya mesti tinggi, harus catch up terus dengan perkembangan software game yang favorit. Sebaliknya pendapatan warnet yang lebih kecil dapat diimbangi dengan penekanan modal di komponen komputer client menggunakan thin client.

Mungkin lebih tepat jika kita mendasarkan pertimbangan pada kecocokan kita dengan karakteristik kedua jenis usaha tersebut di atas. Apakah kita punya dana lebih yang cukup, apakah kita menghendaki pendapatan lebih tinggi dengan segala konsekuensinya ? Tempat yang cukup berisik, bergelut dengan problem virus, update software game periodik, upgrade hardware pada waktunya, dan lebih menyukai murni bisnis hiburan. Atau dana kita cukup terbatas, rela dengan pendapatan yang tidak terlalu besar, namun mendidik sekaligus memberikan hiburan, dan tidak ingin terlalu pusing dengan masalah software, yang penting menjaga layanan. Tidak ada satu jenis bisnis yang lebih baik dari yang lainnya, dimana kita cocok, di situ akan lebih baik untuk kita.








Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.